Why Hua-Ind?

Sekolah di Hua-Ind = ulangan terus

Sekolah di Hua-Ind = pergi pagi pulang malam?

Sekolah di Hua-Ind = MAHAL ????

atau

Sekolah di Hua-Ind = kebanggaan?

Sekolah di Hua-Ind = kesuksesan?

Roller coaster : fun & thrilling

Beberapa komentar di atas sama seperti ketika kita jalan-jalan ke Dufan sambil menatap roller coaster yang super besar ukurannya. Sebelum kita naik, pasti kelihatan sangat mengerikan & mustahil untuk dilakukan, bukan? Begitu hati mantap, kita naik & ternyata memang bisa membuat jantung berdebar-debar tiada hentinya. Mau lompat tidak mungkin, mengucapkan jampi-jampi juga tidak banyak membantu. Tinggal 4 hal yang bisa kita lakukan yaitu membuka mata lebar-lebar, berpegangan yang erat, berteriak sekeras-kerasnya dan nikmati perjalanan tersebut.

Setelah perjalanan berakhir, akhirnya kita bisa turun dengan kaki yang sedikit bergetar. Tapi kepuasan, kebanggaan bercampur aduk jadi satu. Puas karena kita menikmati pengalaman baru yang luar biasa, sekaligus bangga karena merupakan prestasi tersendiri. Bisa dibilang kita sukses. Bayangkan berapa banyak orang yang terlalu cemas sehingga tidak berani menginjakkan kakinya untuk menaiki roller coaster, sehingga tidak bisa menikmati pengalaman yang mendebarkan itu.

Itulah Hua - Ind. Dilihat dari luar kelihatan besar, menakutkan, & seolah-olah tiada berakhir. Tapi setelah Anda masuk, bergabung & menjalaninya, ternyata Hua-Ind tidaklah se-menakutkan seperti yang diceritakan & yang pasti, pengalaman-pengalaman luar biasa sudah menanti di depan untuk mengasah Anda menjadi pribadi yang luar biasa.


Sekali lagi, pendapat-pendapat yang selama ini ada tentang Hua-Ind memang tidak sepenuhnya salah. Tapi yang membuat pernyataan-pernyataan tersebut menjadi salah adalah apabila mereka yang berkomentar itu tidak melihat, merasakan, apalagi mengalami langsung pengalaman belajar di Hua-Ind. Sama seperti suporter sepakbola; yang tidak bisa banyak membantu tim kesayangan mereka, kecuali dengan berkomentar saja. Tapi tentu saja tanpa adanya suporter, suatu pertandingan sepakbola tidak akan menjadi ramai & para pemain tidak akan bersemangat!

Tanpa komentar-komentar di atas, Hua-Ind tentu saja tidak akan bisa belajar & tumbuh berkembang hingga ke saat ini. Masa muda adalah masa yang penuh dengan energi. Dan energi tersebut tidaklah harus selalu dihabiskan dengan kongkouw2, hang-out di mall, party, ngeceng di bengkel sambil modif 'moge', apalagi bergosip. Masa muda juga bukan berarti menghabiskan waktu dengan menghabiskan dana dari orangtua. Masa muda pastinya juga bukan berarti duduk diam, melamun, dan tidak tahu harus melakukan apa untuk masa depanmu. Masa muda berarti menggunakan energi yang ada untuk memikirkan & menghasilkan hal-hal yang positif serta berguna untuk sekarang dan masa depan.

Rafting

Rafting

 

Di Hua-Ind, siswa dibimbing untuk menghasilkan & menghabiskan energi dengan cara yang positif. Energi yang ada disalurkan lewat acara & kegiatan yang bisa membangun pribadi dengan perlahan namun pasti. Siswa diajarkan untuk berinteraksi dengan sesama lewat pengalaman berorganisasi sehingga bisa belajar menjadi pemimpin masa depan.

Pramuka : sahabat alam dan manusia

 

Siswa juga diarahkan untuk bersahabat dengan alam lewat pramuka, sehingga bisa lebih menghargai alam beserta isinya. Siswa juga diingatkan untuk selalu menghargai orangtua & seluruh jerih payah mereka, sehingga siswa bisa belajar untuk lebih rendah hati, tidak boros, & tidak sombong.

Siswa yang sedang mengerjakan tes di GSG

 

Ulangan-ulangan ataupun tugas-tugas segunung yang sering diberikan bertujuan untuk mengajarkan siswa supaya tidak terlalu berat dalam menerima seluruh materi pelajaran secara mendadak. Siswa diharapkan bisa perlahan-lahan meresapi setiap pelajaran yang diberikan dengan cara mencicil dari awal. "Ilmu adalah sesuatu yang harus dibiasakan dan bukan dipaksakan! ". Dan hal ini sangat terasa ketika para siswa sudah lulus SMA dan menginjakkan kaki mereka ke dunia perkuliahan. Mereka bersaksi bahwa tugas & ulangan yang rutin diberikan di Hua-Ind membuat mereka merasa sangat mudah untuk mengikuti tugas-tugas yang diberikan oleh para dosen. Dan cenderung nilai-nilai (IP) mereka sangat tinggi berkat asahan para guru Hua-Ind sehingga mereka terbiasa mencicil materi ulangan.

Sedangkan komentar mengenai kuper, tidak modis, kutu buku, dll, adalah semata-mata karena di Hua-Ind selalu ditanamkan nilai-nilai kesederhanaan. Sehingga siswa senantiasa diingatkan untuk tidak membawa barang-barang berharga (handphone, perhiasan, mobil, dll) yang sekiranya akan menimbulkan kesenjangan sosial sesama siswa. Selain itu, siswa diharapkan untuk selalu ingat akan jerih payah orangtua sehingga bisa menanamkan rasa tenggang rasa, rendah hati & suka menolong.

Bagaimana dengan kebiasaan membaca buku?? Kebiasaan membaca memang selalu ditanamkan karena buku adalah jendela dunia. Jadi untuk apa malu kalau dikatakan kutu buku? Bukankah dunia sudah di tangan Anda? Ada sebagian orang yang memang beruntung. Karena walaupun tanpa dasar pendidikan yang bagus / tinggi, tetap bisa meraih kesuksesan. Tapi ingat, tentu saja harus diimbangi dengan kerja keras dan keuletan. Sekarang bayangkan sejenak : Anda dengan dasar pendidikan yang bagus + kerja keras + ulet !! Bagaimana?? Tentu saja KESUKSESAN sudah di depan mata.

 

Nah, gosip yang terakhir seputar Hua-Ind adalah "Hua-Ind ? Mahal ahhh ... ". Masalah biaya sekolah adalah hal lain yang wajib dipertimbangkan oleh orangtua ketika mencari & mendaftarkan anak-anak mereka ke suatu sekolah. Dan tidak kurang siswa juga ikut mikir untuk masalah yang satu ini. Nah, pertanyaannya adalah apakah ungkapan di atas benar atau salah? Jawabannya ada di tangan Anda sendiri setelah membaca ilustrasi berikut.

Mari kita ilustrasikan sebagai berikut : Mr. A membeli sebuah mobil Zebra Tahun 1991 seharga Rp 10.000.000,- . Pada situasi tersebut sepertinya Mr. A telah mendapatkan sebuah mobil dengan harga yang sangat murah, karena pasarannya masih sekitar Rp 18.000.000,- pada saat ini. Tetapi yang belum kita ketahui adalah ternyata mobil yang dibeli tersebut masih perlu banyak perbaikan, sehingga kalau dihitung-hitung untuk membuat mobil itu layak dipakai akan menghabiskan dana jauh di atas Rp 18.000.000,-  Nah, kalau kita mengetahui keadaan itu sebelumnya, masihkah kita akan bilang bahwa Mr. A mendapatkan mobil itu dengan murah??? Tentu tidak lagi ! Sekarang bayangkan Mr. A mendapat mobil Alphard bekas tahun 2011 dengan harga Rp 100.000.000,- , pasti tidak ada orang yang berani mengatakan bahwa Mr. A membeli mobil tersebut terlalu mahal. Karena meskipun nominal Rp 100.000.000 itu masih sangatlah besar bagi sebagian besar orang, tetapi dengan adanya transaksi seperti itu Mr. A termasuk orang yang sangat beruntung ! Dan juga masih segar di ingatan kita ketika Indonesia diserbu oleh pasar Motor Cina (Mocin) yang harganya sangat murah. Tetapi berhubung masyarakat Indonesia sudah cerdas, mereka tidak gampang saja terbujuk oleh harga murah. Tetap Motor Jepang-lah pilihan mereka. Kenapa? Kualitas mesin,  onderdil yang mudah diperoleh, bengkel servis yang tersebar dimana-mana, serta layanan purna jual yang tinggi, membuat mereka mengesampingkan harga murah. Tetap kualitas-lah yang mereka dahulukan.

 

Kita kembali ke masalah biaya sekolah. Apabila Anda sudah membayar sejumlah uang untuk beberapa fasilitas yang  JARANG dimiliki sekolah lain, misalnya : fasilitas/sarpras sekolah yang lengkap & modern, prestasi akademik & non akademik yang rutin di tingkat nasional & internasional, konsistensi dalam penegakan disiplin & moral, pelayanan yang prima dari pimpinan, guru serta karyawan, alumni yang banyak diterima di perguruan tinggi swasta/negeri baik dalam/luar negeri karena jalinan kerjasama yang kuat, jaringan alumni (PEKSY) yang sangat solider, pastilah Anda tidak akan menganggap itu mahal, karena sangatlah sebanding dengan proses yang akan Anda jalani dan hasil yang akan didapatkan kemudian. Pendidikan bukanlah barang dagangan yang bisa dinilai mahal atau tidak, tetapi merupakan investasi atas serangkaian proses pembentukan jati diri. Lagipula kalau Anda ingin mendapatkan harga murah, Ijazah SMA bisa dibeli dimana-mana. Jadi ... masih mahalkah Hua-Ind?? It's your call !

Jadi itulah sekilas alasan-alasan kenapa setiap tahunnya 1200 siswa yang sudah memilih Hua-Ind tetap setia menetapkan Hua-Ind sebagai sekolah lanjutan mereka. Tentu saja alasan-alasan diatas ditunjang dengan fasilitas belajar mengajar yang lengkap, asrama putra & putri, guru-guru berpengalaman, status Terakreditasi 'A', Status "SEKOLAH KATEGORI MANDIRI" dan akan ditetapkan menjadi "SEKOLAH MODEL" dalam waktu dekat, serta lingkungan belajar yang sangat hijau, kondusif & aman di kota Malang!

Satu berita terbaru yang menjadikan Hua-Ind selalu layak untuk dikategorikan terdepan dalam inovasi pendidikan di kota Malang adalah penerapan Sistem Kredit Semester (SKS) bagi siswa kelas X tahun pelajaran 2013/2014. Sebagai catatan, Hua Ind adalah SMA swasta pertama di Malang yang berani mendobrak sistem lama dengan menggunakan sistem SKS ini. Beberapa keunggulan SKS adalah siswa bisa memilih beban belajar sesuai dengan kemampuan siswa itu sendiri dan apabila tidak lulus 1 mata pelajaran, siswa hanya perlu mengulang mata pelajaran yang bersangkutan di semester mendatang, sehingga tidak akan ada lagi istilah TIDAK NAIK (TINGGAL) KELAS. Sungguh suatu sistem pendidikan yang lebih adil untuk siswa itu sendiri.

Akhir kata, selamat datang di kota Malang " Kota Pelajar" dan selamat bergabung dengan keluarga besar SMAK Kolese Santo Yusup Malang, TETAP BERSEMANGAT !

 

Intellectual & Character. That's the true value of Education! "

 

Berlangganan ke saya di YouTube